IPEKA INTEGRATED Christian School » Tips For Parents » Asertif, Submisif, atau Agresif?

Asertif, Submisif, atau Agresif?

Kehidupan kita tidak pernah lepas dari yang namanya berkomunikasi. Dalam menjalin relasi dengan orang lain, acapkali kita melihat berbagai gaya komunikasi yang berbeda-beda pada tiap orang. Ada tipe yang berani dalam melontarkan ide-idenya, mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Namun ada juga yang hati-hati, takut-takut, atau sama sekali tidak mengungkapkannya secara terang-terangan.

Pernahkah kita mengalami, melihat, atau mendengar orang lain yang mengungkapkan kekecewaan, ketidaksepahaman, atau ketidaksetujuannya secara langsung (frontal)? Sebaliknya, ada juga orang yang mengungkapkannya kelihatan takut-takut, mudah merasa sungkan, bahkan menyimpan kekesalannya sendiri dan baru bicara dengan umpatan atau cacian secara diam-diam di belakang.

Orang yang mengekspresikan perasaannya secara langsung atau kadang kelihatan blak-blakan dapat dikatakan sebagai orang dengan karakter agresif. Sedangkan orang yang kurang berani, lebih mengalah, dan tunduk, biasanya disebut dengan karakter yang submisif.

Karakter agresif banyak kita temui ketika di jalan raya. Misalnya ketika mobil-mobil hendak mengantri, tiba-tiba ada satu mobil yang memotong jalan. Apa reaksi si pengendara? Ada yang hanya sekedar mengklakson atau hanya mendongkol di dalam hati, namun juga tidak sedikit yang membuka jendela mobilnya lalu mengeluarkan kata-kata cacian kepada pengendara mobil lain. Atau peristiwa di tempat kerja, dimana ada orang yang secara gagah berani melontarkan kata-katanya tanpa menyaringnya terlebih dahulu dan tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Menurut mereka Hati saya sih baik, hanya kata-katanya aja yang pedas. Saat itu aja kok saya marah, sudahnya baik lagi.

Kebalikan dengan karakter agresif yang sering kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit juga kita melihat karakter submisif. Misalnya di lingkungan kantor, ada seseorang yang cenderung dominan, kritis, dan agak galak bertemu dengan rekan kerjanya yang kurang percaya diri, penghindar konflik, dan kurang pandai bicara. Biasanya yang di cap galak tersebut lebih banyak mendominasi si pengalah. Akibatnya si pengalah menjadi lebih submisif terhadap perilaku rekan kerjanya yang dominan tersebut.

Selain karakter agresif dan submisif, ada yang dinamakan dengan karakter asertif. Asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain. Apabila kita mampu mengungkapkan perasaan negatif (marah, jengkel) secara jujur sesuai dengan apa yang kita rasakan tanpa menyalahkan orang lain, maka hal tersebut dapat dikatakan sudah bertindak secara asertif.

Bersikap asertif memang tidak mudah untuk dilakukan. Terlebih lagi, dalam bersikap asertif seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat, dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan, ataupun merugikan pihak lain. Kebanyakan orang enggan bersikap asertif karena dalam dirinya ada rasa takut mengecewakan orang lain, takut jika akhirnya dirinya tidak lagi disukai ataupun diterima. Selain itu alasan untuk mempertahankan kelangsungan hubungan juga sering menjadi alasan karena salah satu pihak tidak ingin membuat pihak lain sakit hati. Padahal, dengan membiarkan diri untuk bersikap tidak asertif (memendam perasaan, perbedaan pendapat) justru akan mengancam hubungan yang ada karena salah satu pihak kemudian akan merasa dimanfaatkan oleh pihak lain. Dengan menyatakan apa adanya perasaan atau emosinya, seseorang tidak akan dikendalikan orang lain, lebih efektif dalam berinteraksi, lebih dihargai orang lain, menjadi lebih percaya diri, dan memiliki rasa puas.

Nah, bagaimana jika kita saat ini masih cenderung memiliki karakter agresif atau submisif? Jangan khawatir, pada dasarnya karakter asertif ini masih bisa dilatih dan dikembangkan. Ada beberapa tips yang dapat dilakukan agar kita bisa berlatih asertif.

1. Tentukan sikap yang pasti, apakah Anda ingin menyetujui atau tidak. Jika Anda belum yakin dengan pilihan Anda, maka Anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. Jika Anda sudah merasa yakin dan pasti akan pilihan Anda sendiri, maka akan lebih mudah menyatakannya dan Anda juga merasa lebih percaya diri.

  1. Jika belum jelas dengan apa yang dimintakan pada Anda, bertanyalah untuk mendapatkan kejelasan atau klarifikasi.
  2. Berikan penjelasan atas penolakan Anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain.
  3. Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan tidak untuk penolakan, dari pada sepertinya saya kurang setuju, sepertinya saya kurang sependapat‚saya kurang bisa.
  4. Pastikan pula bahwa sikap tubuh Anda juga mengekspresikan atau mencerminkan bahasa yang sama dengan pikiran dan verbalisasi Anda. Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
  5. Gunakan kata-kata Saya tidak akan. atau Saya sudah memutuskan untuk. dari pada Saya sulit. Karena kata-kata Saya sudah memutuskan untuk lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang anda tunjukkan.
  6. Jika Anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak Anda padahal Anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat Anda lakukan: mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
  7. Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang Anda sampaikan (karena Anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain). Sebenarnya, akan lebih baik jika Anda katakan dengan penuh empati seperti: Saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu, tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk 
  8. Janganlah mudah merasa bersalah! Anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain atau atas kebahagiaan orang lain.
  9. Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengah tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan, dan kepentingan masing-masing.

Selamat mencoba bersikap asertif.

Penulis: Hany Tanijaya, M. Psi.
IPEKA Counseling Center

Referensi :
http://indosdm.com/perilaku-agresif-submisif-dan-asertif-dalam-komunikasi http://imron46.blogspot.com/2010/05/perilaku-asertif.html
www.garutkab.go.id/…/Jadilah%20karyawan%20Yang%20Asertif.do
http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/02/bersikaplah-asertif-bukan-submisif-atau-agresif/

 

Comments are closed.