Acuh Tak Acuh tentang Sampah

Kita dapat mengkategorikan dua jenis manusia, yaitu mereka yang peduli dan mereka yang acuh tak acuh.

Sayangnya, banyak orang yang sepertinya acuh tak acuh—seperti yang pernah diujarkan oleh Thomas Gray, “Ignorance is bliss (terj. bebas: Tidak peduli itu menyenangkan).” Tetapi, jika direnungkan secara saksama, beberapa orang mungkin menyadari betapa kehidupan ini begitu dekat dengan kesudahannya. Lalu, banyak orang menjadi panik. Karena itu, mereka perlu menyadari bahwa penyebab di balik semua itu terkait dengan perihal membuang sampah.

Penting bagi generasi muda untuk menyadari betapa merusaknya kebiasaan membuang sampah secara sembarangan, sebab masa depan bergantung di tangan generasi muda. Apa pun yang kita lakukan akan mempengaruhi masa depan, dan bila kita cukup sadar akan hal ini, akan menjadi teladan yang bagus bagi generasi berikutnya untuk melanjutkannya.

Ada sejumlah langkah sederhana, bahkan mungkin terkesan remeh tentang sampah. Salah satu contoh konkret yang dilakukan adalah mendaur ulang sampah, tetapi akan percuma bila kita tidak membuang sampah seperti botol-botol plastik ke tempat sampah. Sebenarnya, kita bisa juga mendaur ulang ataupun reusing (memakai ulang), misalnya menggunakan sampah-sampah organik sebagai pupuk ketimbang memakai pupuk kimia yang bisa membahayakan lingkungan.

Memakai kendaraan secara beramai-ramai maupun transportasi umum, selain akan menghemat pengeluaran untuk bahan bakar, juga akan mengurangi polusi—sebuah tantangan besar di kota-kota besar seperti Jakarta. Contoh tindakan kecil lain yang akan melestarikan bumi adalah mematikan lampu bila tak dipakai, atau televisi, air, atau AC. Tentu mudah sekali melakukan semua itu dan sekaligus akan meningkatkan potensi hidup yang lebih baik.

Pepohonan merupakan salah satu penolong kita untuk menjaga keasrian bumi dan kesehatan makhluk hidup di dalamnya, maka kita mesti berusaha untuk melindungi pepohonan. Juga, jika kita mau mencetak atau mem-print memakai kertas secara bolak-balik, tentu jumlah pohon-pohon yang ditebang akan berkurang, seperti yang pernah dilakukan oleh Universitas Princeton yang menyatakan ikut ambil bagian dalam menyelamatkan sebanyak 1.276 pohon dalam rentang waktu dua tahun karena mencetak memakai kertas daur ulang.

Terakhir adalah tentang rokok. Sekitar 600 juta pohon telah dirusak tiap tahunnya hanya untuk menjadi kertas-kertas rokok yang tak bisa didaur ulang, menjadi rokok-rokok yang diisap oleh orang-orang yang menyebarkan asap-asap berbahaya ke udara. Padahal, kita tentu tahu bahwa merokok sangat tidak baik untuk kesehatan.

Itulah beberapa saran yang mungkin dapat diterima sebagian besar orang berkaitan dengan masalah sampah. Saya sendiri juga sebenarnya tak terlalu mempedulikan hal ini, sebab apa pun masalahnya, tak seorang pun senang terhadap apa yang sedang terjadi di dunia ini. Mencoba untuk mencegahnya pun hanya membutuhkan sedikit usaha dari kita. Saya merasa kasihan terhadap generasi depan yang mungkin akan mempersalahkan kita karena apa yang sebenarnya bisa kita lakukan hampir tanpa upaya, namun kita tak melakukannya karena kita tak mau mengambil sikap yang bertanggung jawab.

—oleh Joan Dominic Lee

Sumber-sumber referensi:
- thegreenguide.com
- cleanup.org.au
- oxygen.org.au

Comments are closed.