Ibadah PraPaskah

PHOTO SETAlunan lembut musik dari piano mewarnai suasana ruang ibadah di GKY Green Ville sebelum kebaktian praPaskah gabungan untuk guru dan karyawan IPEKA mulai siang itu.

Kamis, 2 April 2015.

Tema utama pada ibadah itu adalah Kasih—untuk mengingatkan jemaat menjelang Paskah tentang kasih Tuhan Yesus. John Stott pernah berkata, “That is why, if we are looking for a definition of love, we should look not in a dictionary, but at Calvary (terj. bebas: Karena itu, kalau kita ingin mencari arti kasih, janganlah mencarinya di kamus, melainkah pandanglah salib Kristus).”

Pdt. Alexander Nanlohy dari Perkantas (Persekutuan Kristen Antaruniversitas), sebagai pengkhotbah pada ibadah ini, menyampaikan firman Tuhan yang bagian pasalnya berjudul Allah adalah Kasih, yaitu 1 Yohanes 4:7-12. Pdt. Alex mengingatkan bahwa:

  • kasih membutuhkan lingkungan atau environment
  • kasih membutuhkan komunitas, community
  • kasih memerlukan konteks (context)

Kasih juga memberi dan bukan hanya tentang hal-hal yang romantis.

Beliau pun menggarisbawahi dua hal penting tentang kasih Allah.

  1. Kasih Allah adalah kasih yang aktif (lih. Roma 5:8). Allah tidak menuntut kita untuk membereskan dosa-dosa kita terlebih dulu, maka barulah Ia datang; tidak, sebab Ia telah datang terlebih dulu bagi dan kepada kita. Aktif. Banyak orang yang mengaku dan merasa memiliki kasih, tapi mereka pasif ataupun egois.
  2. Kasih Allah yang dinyatakan kepada kita, umat manusia, adalah kasih yang berkurban atau willing to sacrifice. Mengasihi itu terkadang sakit, serta kita mesti menanggung apa pun yang memang harus kita tanggung.

Sementara itu, persembahan penampilan drama, grup vokal, serta paduan suara yang terdiri dari bapak-ibu Tata Usaha Sekolah Kristen IPEKA turut mewarnai isi acara ibadah di Gereja Kristus Yesus Green Ville ini. Ikut mengingatkan tentang kasih Tuhan, serta masa-masa praPaskah, menjelang Jumat Agung seperti ini agar tak sekadar menjadi perenungan, tapi juga mendorong perubahan. Perubahan hidup.

“Bagaimanakah sesungguhnya apabila kasih memiliki rupa? Ia mau menolong sesama manusia. Ia bergegas untuk membantu orang yang miskin maupun yang membutuhkan bantuan. Ia tak menutup mata terhadap penderitaan maupun kekurangan yang ada. Ia ada untuk sesama. Seperti itulah rupa kasih.
—Santo Agustinus

Comments are closed.