Yuk Selamatkan Air

Planet kita sedang mengalami krisis besar yang dikenal dengan global warming (pemanasan global). Gunung-gunung es di antartika mulai meleleh yang menyebabkan naiknya permukaan air laut dan membayakan bagi para penghuni di daratan.

Masih banyak hal lain, selain pemanasan global, yang mengancam planet ini. Di sini, di Jakarta – Indonesia, kita sering mengalami banjir. Banjir-banjir yang biasanya disebabkan oleh masyarakat yang tak menaruh kepedulian terhadap pengolahan sampah, misalnya membuangnya ke saluran air ataupun sungai-sungai sehingga menyebabkan aliran air yang terganggu dan mengakibatkan datangnya banjir bertubi-tubi.

Lautan pun seolah berteriak minta tolong kepada kita. Di satu sisi, teknologi masa kini makin canggih di mana-mana. Banyak tersedia barang baru yang lebih baik dan lebih mudah menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan kita. Namun, banyak juga orang yang memancing dengan alat-alat yang mungkin tidak diperolehkan (seperti bahan peledak, bahan-bahan yang memakai listrik dan lain-lain), serta mungkin memancing secara berlebihan. Dengan metode-metode seperti itu, habitat laut, terumbu karang, serta organisme lainnya akan rusak. Menurut pendapat saya, rusaknya sebuah habitat tertentu adalah celah pertama menuju punahnya sesuatu.

Jika rumah seseorang hancur, di manakah ia akan tinggal? Demikian juga, apabila orang-orang menggunakan bahan-bahan peledak untuk memancing, mereka bukan hanya akan membunuh spesies makhluk hidup laut yang dewasa, melainkan juga yang masih muda atau generasi selanjutnya dari spesimen itu yang sedang bertumbuh. Beberapa ikan telah punah, seperti ikan Coelacanth dari Bunaken, Manado – Indonesia. Adalah tugas kita sebagai generasi muda untuk mencegah hal berikutnya terhadap spesies lain terjadi. Kita mesti berusaha untuk melindungi harta karun atau warisan negara kita.

Secara perlahan, lautan terkontaminasi dengan tumpahan-tumpahan minyak. Kejadian itu sering kali karena kesalahan manusia. Biasanya, tumpahan minyak itu juga terjadi karena bocornya kapal-kapal tangki yang membawa minyak dari satu tempat ke lokasi lainnya. Juga, menggunakan produk yang mengandung minyak, lalu membuang sampahnya ke sumber-sumber air lokal akan menambah jumlah kontaminasi minyak di lautan. Alat-alat transportasi air seperti jet ski (motor air) bisa juga bocor dan melepaskan minyak-minyak. Namun, kita bisa mencegah semua itu dengan meningkatkan kesadaran orang-orang tentang betapa berbahayanya efek dari tumpahan minyak di laut.

Tumpahan minyak bukan hanya mencemari lautan, melainkan juga membahayakan nasib hewan-hewan laut. Burung-burung laut adalah hewan-hewan yang sangat terpengaruh karena efek itu. Saat tubuh mereka terkena minyak, akan berat bagi tubuh burung-burung itu untuk terbang. Lalu, burung-burung itu mencoba memakan minyak-minyak itu untuk menghilangkannya dari tubuh mereka. Itu sangat berbahaya bagi mereka karena minyak tersebut beracun sehingga dapat menyebabkan kematian yang parah, kecuali burung-burung itu mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Sebagai generasi muda, saya percaya dengan menghadiri seminar untuk pemuda yang mengetengahkan kepedulian terhadap masa depan planet ini akan sangat berguna bagi saya. Saya dapat belajar banyak hal tentang cara mencegah polusi di dunia yang tercemar ini. Idiom Waste Not, Want Not (terj. bebas: Jangan Buang Sampah Sembarangan & Jangan Terlalu Mengingini Banyak Barang) juga dapat berarti jika kita tidak membuang sampah sembarangan, kita sebenarnya bisa dikatakan memiliki banyak barang berharga dan tak menginginkan banyak benda lainnya.

Sebenarnya, sebagai manusia, kita mewarisi satu dosa alami, yaitu sikap serakah. Itulah sebabnya kita menginginkan begitu banyak hal ataupun barang yang mungkin tidaklah kita butuhkan, dan sering kali kita menyia-nyiakan apa pun yang kita ambil atau peroleh. Saya berharap orang-orang dapat berubah dalam melihat lingkungan. Saya berharap mereka dapat menyadari keadaan buruk yang kita hadapi saat ini.

Yuk kita selamatkan dan sembuhkan planet ini. Yuk kita jadi orang-orang yang membuat perubahan.

—by Fiona Aberima

Referensi:
– http://oilsplat.wordpress.com/about/

Comments are closed.